Gigi Sepeda

Ilustrasi pesepeda yang sedang mengayuh sepeda balap

“Life is like a ten-speed bike. Most of us have gears we never use.”

Charles M. Schulz

Saat ini, bersepeda sudah menjadi gaya hidup. Banyak orang tertarik untuk bersepeda—termasuk seorang pemuda bernama Satria. Ia tertarik dengan balap sepeda. Setelah cukup lama mengumpulkan uang, akhirnya ia mampu membeli sebuah sepeda balap.

Dengan senang hati, Satria segera mencoba sepeda barunya. Namun, setelah beberapa hari, ia justru kecewa berat. Ia tidak bisa mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Seberapa kuat pun ia mengayuh, sepeda itu tetap berjalan lambat.

Akhirnya, ia membawa sepeda tersebut kembali ke toko.

“Pak, Anda menipu saya! Katanya ini sepeda balap, kok larinya lambat sekali. Bahkan kalah oleh sepeda biasa,” katanya sambil marah-marah kepada penjual.

“Yang benar, Pak? Padahal pembalap nasional juga menggunakan sepeda seperti ini. Mereka bisa melaju cepat,” jawab penjual itu, keheranan.

“Buktinya, saya sudah sekuat tenaga mengayuh. Tetap saja lambat,” kata Satria sambil menaikkan nada suaranya.

“Mungkin ada yang rusak. Boleh saya periksa?” tanya penjual itu dengan tenang.

Ia memeriksa sepeda tersebut. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Tidak ada yang rusak, Pak. Kondisinya seratus persen baik.”

“Tapi kenyataannya sepeda itu lambat! Coba saja sendiri kalau tidak percaya,” seru Satria.

Penjual itu memberi isyarat kepada salah seorang pegawainya untuk mencoba sepeda tersebut.

Wusss… Dalam sekejap, sepeda itu melaju kencang. Satria hanya bisa bengong.

“Kok bisa, ya?” katanya bingung.

“Silakan Bapak coba lagi. Saya ingin melihat cara Bapak mengendarainya,” kata si penjual sambil tersenyum lega. Sepedanya memang tidak bermasalah.

Satria pun kembali mengayuh. Ia menggerakkan pedal secepat dan sekuat tenaga. Benar saja, sepedanya tetap tidak melaju cepat. Usahanya terlihat sia-sia. Dengan tubuh penuh peluh, ia menghampiri penjual.

“Apa yang salah, ya?” tanyanya.

Penjual itu tersenyum. Ia sudah menemukan letak kesalahannya.

“Secepat apa pun Bapak mengayuh, kecepatannya tidak akan bertambah berarti kalau Bapak tetap memakai gigi satu.”

“Oh… jadi harus pindah gigi? Bagaimana caranya?” tanya Satria sambil menahan malu. Wajahnya kembali merah padam. Jika tadi merah karena marah, sekarang merah karena malu.

Kerja keras belum tentu cukup

Bisa jadi, begitulah kita menjalani hidup. Kita merasa sudah berusaha sekuat tenaga dan bekerja keras setiap hari. Namun, mengapa perubahan terasa begitu lambat?

Mungkin masalahnya bukan pada kurangnya tenaga. Mungkin kita sedang mengayuh sekuat-kuatnya, tetapi masih memakai “gigi” yang sama.

Kerja keras tetap penting. Namun, pada saat tertentu kita perlu berhenti sebentar, membaca keadaan, lalu mengubah cara. Bukan agar bekerja lebih santai, melainkan agar tenaga yang sama membawa kita lebih jauh.

Coba identifikasi

  • Apakah tujuan yang saya kejar sudah cukup jelas?
  • Apakah cara yang saya gunakan masih cocok dengan keadaan sekarang?
  • Pengetahuan atau keterampilan apa yang sebenarnya saya miliki, tetapi belum pernah saya gunakan?
  • Apakah saya perlu mengayuh lebih keras—atau justru belajar memindahkan gigi?

Kita mungkin tidak kekurangan tenaga. Kita hanya belum memakai semua gigi yang tersedia.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More posts